Tiga bocah perempuan tanggung di hadapan ustaz Helmi mengkeret ketakutan. Dhaniati, Maryani dan Inge, tiga santriwati terbaik TPA memang sedang berhadapan dengan guru mengaji mereka yang galak itu.
“Lomba tilawah yang lalu kalian tidak ikut dengan alasan macam-macam. Sekarang, lomba yang serupa diadakan lagi dan kalian tetap tidak mau ikut. Apa mau kalian sebenarnya?!” bentak Ustaz Helmi.
Mereka diam.
“Jawab!” makin keras saja suara guru ngaji itu.
“Anu, Taz…” Maryani bersuara takut-takut.
“Anu apa?!” sambar ustaz Helmi.
Diam lagi.
Braakkk! Ustaz Helmi menggebrak meja hingga vas bunga terjatuh lalu menggelinding jauh. Maryani, Dhaniati dan Inge tambah ketakutan. Tubuh mereka gemetar dan tidak ada yang berani mengangkat kepala sama sekali.
“Ambil itu,” kata ustaz Helmi agak mengendurkan tekanan suaranya.
Inge tanggap lalu cepat-cepat bangkit untuk mengambil vas bunga yang menggelinding hingga ke bawah barisan meja belajar santri. Dia merunduk-runduk seperti kucing mencari tikus di kolong meja barisan pertama dan semua geraknya itu tidak luput sedikitpun dari pandangan ustaz Helmi: tubuh bagian atasnya terjulur ke kolong, sementara bokongnya nungging maksimal. Utuh penuh.
Ustaz Helmi berdehem saat Inge meletakkan vas bunga itu di atas meja.
“Baiklah,” katanya, ”Kalau kalian semua sama-sama keukeuh tidak mau, ustaz terpaksa memilih satu saja di antara kalian. Dan ustaz memilih Inge. Karena Maryani dan Dhaniati kali ini sudah saya bebaskan untuk tidak ikut, bukan berarti untuk ke depannya akan bebas terus. Ingat itu! Sekarang, Dhaniati dan Maryani boleh pulang. Inge tinggal dulu di sini.”
Seperti tidak menyia-nyiakan kesempatan, Dhaniati dan Maryani langsung ngeloyor pergi setelah mengucapkan salam dan mencium tangan ustaz Helmi. Hati mereka lega sekali. Peduli amat sama Inge.
“Jangan saya, Taz,” kata Inge memohon, matanya memelas dan putus asa.
“Harus mau!”
“Taz..”
“Ustaz mau kamu, ya kamu! Titik!”
Inge langsung clakep. Kepalanya menunduk. Tidak dilihatnya pandangan mata ustaz Helmi yang seperti menjelejahi keseluruhan tubuhnya.
Sial, pikir ustaz Helmi. Vas bunga dan kolong meja membuat pikirannya kotor.
Cigugur, 15 Januari 2012
hahahaha ustaz helmi harus bales keisengan Om Bas!!!
wahahaha…mudah-mudahan masih mau ngajakin main film..kikikikik..
hahaha, ustaz kurang ajar… *lirik si babeh
kayaknya kenal tuh ama ustadz Helmi…hehehehee